Lompat ke isi utama

Sekolah Lapang Iklim Kopi: Dari Adaptasi Iklim ke Peluang Pasar yang Lebih Luas

Bagi petani kopi di Desa Jolotigo dan Sengare, ketidakpastian iklim bukan lagi sekadar tantangan musiman, melainkan ancaman langsung terhadap penghidupan mereka. Nandirin, salah seorang petani, menuturkan bahwa cuaca yang tidak menentu membuat petani kesulitan menentukan waktu tanam dan pola perawatan yang tepat.

"Kondisi seperti saat ini telah berpengaruh ke hasil kopi, terjadi 40 persen penyusutan, dan ini berpengaruh terhadap pendapatan petani," ungkapnya. Melalui Kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Kopi, para petani diperkenalkan pada teknologi Climate Information System sebagai alat bantu membaca cuaca dan iklim secara lebih akurat.

Perubahan ini menjadi salah satu capaian utama dari kegiatan SLI Kopi, yaitu transisi pola bertani di kedua desa, dari yang semula mengandalkan pengalaman dan spekulasi terhadap cuaca ekstrem, menjadi pola bertani berbasis data. Petani kini memanfaatkan data cuaca BMKG dan informasi iklim untuk menyusun kalender tanam baru yang lebih presisi.

Jejaring Pengaman Finansial dan Pasar yang Lebih Luas

Selain aspek teknis budidaya, program ini juga membangun jejaring pengaman finansial bagi petani. Arif Gandapurnama, Project Coordinator at Mercy Corps Indonesia, menjelaskan bahwa SLI menghubungkan petani dengan Zurich Business Syariah. Momentum ini menjadi kesempatan baik bagi petani kopi Sengare dan Jolotigo mengakses pasar yang lebih besar, dengan pelaksanaan good agricultural practices atau praktik pertanian yang baik. 

Mendukung hal tersebut, skema asuransi berbasis indeks cuaca dirancang agar proses klaim lebih sederhana dan cepat dibandingkan asuransi konvensional. "Dengan asuransi indeks cuaca, petani tidak perlu menunggu proses klaim yang panjang. Begitu ambang batas curah hujan atau kekeringan tercapai, klaim bisa langsung diproses, sehingga petani punya bantalan finansial saat gagal panen," paparnya.

Standar Kualitas dan Penguatan Kelembagaan Petani

Ketahanan iklim tidak berarti banyak jika penghidupan petani (resilient livelihood) tidak turut diperkuat, termasuk kemampuan dalam menghasilkan produk berkualitas yang bisa bersaing di pasar. Karenanya, membangun akses pasar saja tidak cukup, tanpa kualitas produk yang memenuhi standar. 

Salah satu narasumber Eko Marliyanto atau yang akrab disapa Gus Tian dari Lumbung Kopi, memaparkan kriteria kopi berkualitas yang menjadi permintaan pasar, baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa kriteria tersebut diantaranya: kopi yang dipanen saat sudah matang, kadar air 11-12%, disimpan dalam suhu 18-21 derajat Celsius, dan tingkat kelembapan 55-60%. 

Di sisi lain, Hj. Dra. Siti Masruroh, M.Si., Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan seperti koperasi dan kelompok usaha Bersama sebagai fondasi keberlanjutan. "Lembaga ini bisa menjadi bargaining power, sarana manajemen usaha, dan sarana dalam mengakses kredit dan bantuan dari pemerintah, seperti proses pendampingan pengurusan PIRT, label halal, dan sebagainya," jelasnya. 

Dukungan Pemerintah Daerah dan Harapan ke Depan

Plt Bupati Pekalongan Sukirman, S.S.,M.S menyampaikan harapannya agar keterlibatan dalam produksi dan penetrasi pasar kopi tidak berhenti di Desa Jolotigo dan Sengare, melainkan meluas ke desa-desa lain. Menurutnya, di tengah keterbatasan fiskal daerah, sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga nonprofit menjadi sebuah terobosan penting dalam pemberdayaan masyarakat.

"Kami berterima kasih kepada Mercy Corps Indonesia yang telah bersama-sama mendampingi kita, bahkan telah menandatangani Perjanjian Kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Pekalongan, untuk pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan DAS di Pekalongan," ujar Sukirman, S.S.,M.S.

Ia berharap, setelah mengikuti SLI, para petani dapat menghasilkan produk kopi dengan daya saing yang lebih tinggi. Ia juga mengingatkan pentingnya transfer ilmu ke generasi yang lebih muda, agar kopi dapat terus menjadi sumber perekonomian utama di Kecamatan Talun.